tradisi santri

Ro’an, Tradisi Gotong-royong di Dalam Pesantren

Sampai saat ini rutinitas ro’an telah menjadi tradisi yang melekat erat di pesantren, dimana setiap santri mempunyai tanggung jawab untuk melakukan ro’an, khusunya di hari-hari libur, setidaknya membersihkan kamarnya sendiri.

Tidak dapat kita pungkiri bahwa lingkungan yang bersih pastinya akan membuat siapa saja yang memandangnya akan merasa nyaman dan aman.

Tak hanya bermanfaat mengendalikan penyakit jika lingkungan senantiasa dijaga kebersihannya, akan tetapi lingkungan yang bersih juga bermanfaat untuk menjadikan lingkungan lebih sejuk, bebas polusi dan akan membuat orang yang tinggal di lingkungan tersebut merasa jauh lebih bahagia.

Maka sangat dianjurkan bagi siapa saja untuk selalu menjaga kebersihan lingkungan sebagai bentuk menjalani pola hidup sehat, karena tentunya kita sudah sangat tahu bahwa lingkungan yang kotor akan menjadi sarang dari banyak bibit penyakit berbahaya.

Baca juga:

Aqidatul Awam, Kitab Tauhid dalam Bentuk Syair

Kyai Nafihuzzuha: 8 Pokok Bimbingan Sholawat Wahidiyah

Ada berbagai macam cara untuk selalu menjaga kebersihan lingkungan, dan itu bisa  dimulai dengan membiasakan menjaga kebersihan tempat tinggal kita sendiri, setidaknya menyapu 1 kali sehari, dan membuang sampah pada tempatnya.

Dari kebiasaan sederhana itulah yang selanjutkan akan menumbuhkan kesadaran diri untuk selalu menjaga kebersihan lingkungan kapanpun dan dimanapun.

Sebagai makhluk sosial, untuk menjaga kebersihan lingkungan, kita juga bisa melakukannya secara gotong-royang.

Selain lingkungan terjaga kebersihannya, dengan gotong-royong juga akan membantu mempererat jalinan kerja sama agar bisa bersama-sama untuk mewujudkan kebersihan lingkungan yang dibutuhkan oleh semua orang.

Sampai saat ini persoalan kebersihan lingkungan memang masih menjadi masalah yang perlu ditangani secara serius, terlebih masih rendahnya kesadaran masyarakat untuk membuang sampah pada tempatnya.

Maka untuk menangani permasalah tersebut perlu keterlibatan seluruh elemen masyarakat, termasuk para santri yang sedang menuntut ilmu di pondok-pondok pesantren.

Seakan telah menjadi suatu kewajiban bagi pesantren mendorong para santri untuk melakukan rutinitas menjaga kebersihan lingkungan atau lebih dikenal dengan sebutan ro’an (kerja bakti/gotong royong).

Melalui ro’an, setiap harinya para santri bersama-sama gotong-royong membersihkan lingkungan pesantren dengan menyapu dan membersihkan sampah yang berceceran di area lingkungan pesantren.

Ada perbedaan pendapat tentang asal-usul kata ro’an. Ada yang menyebutkan jika ro’an merupakan kata yang berasal dari kata tabarrukan yang disingkat menjadi rukan, kemudian menjadi roan.

Namun ada juga pendapat lain yang menyebutkan jika ro’an merupakan kata yang berasal dari bahasa arab ro’yun” yang berarti pendapat, gagasan, atau opini. Karena gotong-royong yang dilakukan oleh santri biasanya bukan atas perintah, tapi atas kehendak sendiri yang telah menjadi sebuah tradisi bagi kalangan santri.

Jika santri berpendapat bahwa ada sesuatu yang perlu dibenahi, maka dengan kesadaran diri, tanpa ada paksaan serta dengan senang hati santri tersebut akan membenahi atau mencari solusinya tanpa menunggu adanya perintah.

Baca juga: 

Tanda Orang yang Cinta Kepada Beliau Rasulillah SAW

Kebersamaan Santri Al-Ahsan Merayakan Hari Raya Idul Fitri 1441 H

Terlepas dari perbedaan pendapat tentang asal-usul kata ro’an. Sampai saat ini rutinitas ro’an telah menjadi tradisi yang melekat erat di pesantren, dimana setiap santri mempunyai tanggung jawab untuk melakukan ro’an, khusunya di hari-hari libur, setidaknya membersihkan kamarnya sendiri.

Melalui kegiatan ro’an, pesantren mengajarkan menjaga kebersihan lingkungan sejak dini kepada para santri, melatih santri menanamkan sikap peduli terhadap lingkungan sekitar dan menanamkan sifar sabar dan ihklas yang dampaknya tidak hanya dirasakan diri sendiri, tapi juga akan ikut dirasakan oleh orang lain.

Dengan penanaman sikap peduli terhadap lingkungan di pesantren, maka akan tercipta hubungan baik dan seimbang antara manusia dan lingkungan yang merupakan perwujudan manusia sebagai khalifah fil ardh (khalifah di bumi).

Karena bagaimanapun tujuan hidup manusia di muka bumi ini tidak hanya sebatas hubungan dengan sang Maha Pencipta, namun juga hubungan dengan makhluk lainnya dan hubungan dengan alam sekitar.

Tinggalkan Balasan