syekh ihsan jampes

Syekh Ihsan Jampes “Tiada Hari Tanpa Membaca”

Syekh Ihsan Muhammad Dahlan al-Jampesi atau dikenal dengan Syekh Ihsan Jampes adalah salah satu ulama yang memiliki pengaruh besar dalam penyebaran agama Islam, khususnya pada abad ke-19, melalui pondok pesantren yang beliau asuh yaitu Pondok Pesantren Al Ihsan Jampes di Dusun Jampes, Desa Putih, Kecamatan Gampengrejo, Kabupaten Kediri, Jawa Timur.

Syekh Ihsan merupakan putra dari pasangan KH Dahlan bin Saleh dan Nyai Istianah, lahir sekitar tahun 1901 M. Dididik sejak kecil dilingkungan pesantren maka sangatlah wajar jika kemudian Syekh Ihsan tumbuh menjadi seorang yang haus akan ilmu pengetahuan.

Sebagai seorang ulama besar, Syekh Ihsan ahli dalam berbagai bidang ilmu, mulai dari ilmu falak, fikih, hadits, tasawuf dan akhlak.  Bahkan dari kitab karangannya, Syekh Ihsan kian dikenal hingga mancanegara, terlebih Beliau juga dikenal sebagai seorang ulama sufi yang sangat hebat.

Baca juga:

Kecintaan Syekh Ihsan terhadap ilmu memang telah terlihat semenjak Beliau masih muda. Hal itu terlihat dari Beliau yang terkenal suka membaca. Tak hanya buku agama yang Beliau baca, namun buku selainnya pun juga Beliau baca karena bagi Beliau “Tiada Hari tanpa Membaca”. Yang dari kecintaannya membaca itulah kemudian Beliau memanfaatkan waktu sengang untuk menulis naskah-naskah tentang ilmu.

Di antara kitab karangan Syekh Ihsan yang paling populer ialah kitab Siraj Al-Thalibin. Kitab yang dikaji dibanyak pondok pesantren, perguruan tinggi hingga Universitas Al Azhar Kairo, Mesir. Kitab Siraj Al-Thalibin disusun pada tahun 1933 dan dan baru diterbitkan pertama kali pada tahun 1936, Terdiri dari dua juz (jilid). Juz pertama berisi 419 halaman sedangkan juz kedua berisi 400 halaman. Di periode berikutnya, Siraj Al-Thalibin dicetak oleh Darul Fiqr–sebuah percetakan dan penerbit di Beirut, Lebanon. Dalam cetakan Lebanon, setiap juz dibuat satu jilid. Jilid pertama berisi 544 halaman dan jilid kedua 554 halaman.

Kitab Siraj Al-Thalibin tak hanya beredar di Indonesia dan negara-negara yang penduduknya mayoritas beragama Islam, namun juga beredar di negara-negara non-Islam, seperti Amerika Serikat (AS), Kanada, dan Australia, di mana perguruan tinggi di negara-negara tersebut terdapat jurusan filsafat, teosofi, dan Islamologi. Sehingga, kitab Siraj al-Thalibin menjadi referensi di mancanegara.

Dalam kitab karangannya, Beliau menjelaskan tentang konsep tasawuf di zaman modern. Seperti halnya tentang uzlah yang secara umum bermakna pengasingan diri dari kesibukan duniawi. Menurut Syekh Ihsan, maksud dari uzlah di era modern sekarang ini adalah bukan lagi menyepi, namun berbaur dalam masyarakat majemuk, tapi tetap menjaga diri dari hal-hal keduniawian.

Dari kitab karangan Beliau itu jugalah yang kemudian membuat Raja Faruk yang kala itu berkuasa di Mesir, sekitar tahun 1934 M mengirim seorang utusan untuk menyampaikan keinginannya agar Syekh Ihsan bersedia mengajar di Universitas Al Azhar, Kairo, Mesir.

Baca juga: 

Mendapat tawaran dari Raja Mesir, Syekh Ihsan justru menolaknya dengan halus dengan alasan ingin mengabdikan hidup Beliau di Tanah Air melalui pendidikan Islam. Pengabdian Beliau untuk tanah air tidaklah sia-sia, karena pada tahun 1942 M, beliau berhasil mendirikan madrasah yang kemudian diberi nama Madrasah Mufatihul Huda.

Seiring berjalannya waktu, Pondok pesantren yang diasuh Beliau semakin berkembang pesat dengan semakin banyaknya santri yang berkeinginan menuntut ilmu di Pondok Pesantren Al Ihsan Jampes, terlebih setelah didirikannya sekolah setingkat tsanawiyah dan aliyah untuk menfasilitasi para santri. 

Niat Syekh Ihsan mengabdikan dirinya menyaluran ilmu agama di Tanah Air terus berlanjut hingga akhir hayat Beliau pada 15 September 1952.

Tinggalkan Balasan