Syaikh Abu, Waliyullah yang Tak Fasih Baca Surat Al-Fatihah

Selama ini orang-orang pada umumnya justru sangat memperhatikan penampilan lahiriyah, dan mungkin kita salah satunya. Berpenampilan sebaik mungkin, memakai baju yang paling bagus, memakai wangi-wangian, dan lain sebagainya.

Meski hal yang demikian memang tidaklah dilarang, namun sangat disayangkan, karena terlalu mementingkan penampilan lahiriyah, seringkali kita justru lupa membenahi penampilan batiniyah atau urusan hati. Kita lupa bahwa dampak dari tidak pedulinya kita terhadap urusan batiniyah atau urusan hati jauh lebih berbahaya dibanding dampak lahiriyah, karena akan terus terbawa hingga akhirat.

Baca juga: 3 Jimat Jenderal Soedirman Saat Melawan Penjajah

Dikisahkan ada seorang sufi bernama Syaikh Abu Said Abul Khoir. Karena setingkat wali, oleh Allah Beliau dkarunia banyak karomah. 

Suatu ketika Syaikh Abu kedatangan seorang tamu Ustadz muda yang berkeinginan berguru kepadanya. Butuh waktu yang cukup lama bagi ustadz muda itu untuk sampai di rumah Syaikh Abu, karena rumah Syaikh Abu memang terletak di tengah gurun padang pasir.

Setelah melakukan perjalanan yang melelahkan, Ustadz muda tersebut akhirnya sampai di rumah Syaikh Abu, yang kebetulan saat sang ustadz muda sampai, Syaikh Abu sedang mengaji.

Kala itu terdengar dari dalam rumah, Syaikh Abu sedang membaca surat Al-Fatihah. Karena ustadz muda itu juga mendengar saat Beliau mengaji. Ustadz muda itu merasa tidak puas dengan cara mengaji Syaikh Abu. baginya bacaan Al-Fatihah Syaikh Abu kurang tepat makhrojnya.

“Bagaimana mungkin ia seorang sufi, sedang bacaan Al-Fatihahnya saja tidak fasih “, batin Ustad muda.

Ustadz muda itu akhirnya merasa ragu berguru kepada Syaikh Abu, hingga ia pun mengurungkan niatnya berguru kepada beliau dan segera pergi meninggalkan kediaman Syaikh Abu.

Baca juga: Demi Menjaga Kehormatan, Seorang Ulama Pura-pura Tuli

Ditengah perjalanan dengan memendam kekecewaannya kepada Syaikh Abu,  tiba-tiba ustadz muda itu dihadang 2 ekor singa besar yang siap menerkamnya. Ustadz muda itu tak bisa melakukan apa-apa selain berteriak sekencang-kencangnya, berharap akan ada orang yang akan menolongnya.

Ternyata teriakan ustadz muda itu didengar oleh Syaikh Abu. Dengan segera Beliau menghampiri ustad muda itu yang sesampainya disana, dengan lembut Syaikh Abu berkata pada kedua ekor singa tersebut sambil memandangi matanya. ” wahai singa, bukankah aku sudah katakan jangan pernah mengganggu para tamuku”. 

Benar-benar tak disangka, dan sungguh ajaib, 2 ekor singa itu bersimpuh dihadapan Syaikh Abu seakan tunduk kepada Beliau. 2 ekor singa itu segera meninggalkan Syaikh Abu dan ustadz muda itu setelah Syaikh Abu mengelus kepala kedua singa itu.

Merasa heran dengan apa yang baru saja di lihatnya, ustad muda itu bertanya kepada Syaikh Abu, “bagaimana anda bisa melakukan hal itu?”

“wahai anak muda, selama ini aku mencoba menaklukan hatiku agar senantiasa tidak pernah menaruh prasangka buruk kepada orang lain dan selalu mencintai Allah dari yang lainnya. Jawab Syaikh Abu kepada ustadz muda itu.

Baca juga: Kesederhanaan Kyai Sahal “Kyai Kok Nggak Meyakinkan”

“Apakah engkau tahu kelemahanmu anak muda?”, tanya Syaikh Abu” Denga menahan rasa malu, ustadz muda itu mengatakan bahwa Ia tak tahu apa yang menjadi kelemahannya.

Syaikh Abu kemudian memberikan nasehat kepada ustad muda itu, “Selama ini kamu hanya konsentrasi memperhatikan lahiriah semata, sehingga kamu lupa memperhatikan hatimu, karena itulah kamu lebih takut kepada alam semesta ini”,

Nasehat dari Beliau ternyata membuat ustadz muda itu memantapkan hatinya berguru kepada syekh Abu Said Abul Khoir.

Tinggalkan Balasan