8 pokok ajaran wahidiyah

Kyai Nafihuzzuha: 8 Pokok Bimbingan Sholawat Wahidiyah

Orang yang ingin melakukan kebaikan ini tidak sempurna kalau tidak mengikuti 8 pokok ini, ini menurut Muallif Sholawat Wahidiyah yang dibimbingkan kepada kita pengamal Sholawat Wahidiyah.

 

Oleh: K. Nafihuzzuha, M.Sy*

Ada 8 pokok bimbingan Muallif Sholawat Wahidiyah, maksudnya bimbingan penyusun Sholawat Wahidiyah. Selain Sholawat Wahidiyah, doa-do’a yang dibaca ini ada lagi ajaran pokok 8. Fafirru Ilallah, itu artinya larilah kembali kepada Allah.

Larilah kembali kepada Allah maksudnya melakukan kebaikan-kebaikan yang diperintahkan oleh Tuhan kita. Fafirru Ilallah maksudnya begitu. Orang yang ingin melakukan kebaikan ini tidak sempurna kalau tidak mengikuti 8 pokok ini, ini menurut Muallif Sholawat Wahidiyah yang dibimbingkan kepada kita pengamal Sholawat Wahidiyah.

Yang pertama adalah Lillah. Lillah ini maksudnya ketika kita melakukan kegiatan-kegiatan yang baik, apakah itu harus dilakukan atau itu anjuran saja. Kalau di dalam Islam itu yang hukumnya wajib atau sunnah atau mubah, ini supaya diniati hanya ibadah kepada tuhannya, sehingga makannya dinilai ibadah, kerjanya dinilai ibadah, duduknya dinilai ibadah, istirahatnya dinilai ibadah, semuanya menjadi kegiatan yang bermotivasi Illahi yang bernilai ibadah kepada Tuhan yang Maha Esa.

Kemudian ada Billah, supaya kita tidak menyukutuhan Tuhan yang Maha Esa bahwa hakikinya yang wujud adalah Tuhan, manusia ini tidak wujud. Manusia ini ada, makhluk ini ada karena diadakan oleh Tuhan.

Di dalam melaksanakan kegiatan itu kita dibimbing untuk menerapkan di hati kita bahwa seluruh makhluk yang ada, termasuk diri kita, ada seperti ini, kita bisa melihat (mata kita), telingga kita bisa mendengar, akal kita bisa menemukan, hati kita bisa merasakan, ketika kita bergerak dan diam ini selalu sadar kepada tuhan bahwa yang menciptakan dan mengerakkan kita adalah Tuhan yang Maha Esa. Ini Supata tidak menyekutukan Tuhan.

Sehingga kalau ada orang yang merasa bisa melihat sendiri matanya, ini menyekutukan Tuhan. Yang bisa melihat itu hanya Tuhan. Manusia ini bisa dikatakan diberi kemampuan melihat oleh tuhan, nyatanya sampean (kamu) lihat itu yang duduk ngantuk, dengar gini, walaupun punya mata tidak kelihatan, itu telingganya masih nempel, saya ngomong buanter (keras) gini ya tidak dengar, padahal telingganya masih nempel, karena tidak diberi kemampuan untuk mendengar oleh Tuhan ketika ngantuk, padahal telingganya masih ada. Ini contoh kecil. Contoh kecil seperti itu.

Jadi kita sadari bahwa seluruh makhluk ini yang menciptakan dan yang mengerakkan adalah Tuhan yang Maha Esa. Kita manusia, kita makhluk ini hanya diberi kemampuan oleh Tuhan yang Maha Esa. Ini kita terapkan dalam hati kita, kalau tidak seperti itu namanya menyekutukan Tuhan bahkan merasa menjadi Tuhan. Itu Billah.

Kemudian ada Lirrosul. Lirrosul ini, disamping ketika kita melakukan kegiatan yang baik tadi kita niati ibadah pengabian diri kepada Tuhan yang Maha Esa, juga kita niatkan di dalam hati kita, kita ini mengikuti tuntunan utusan Tuhan yang Maha Esa, utusan Allah SWT. Rasulullah SAW.

Jadi tidak bisa ditinggalkan, langsung kepada Tuhan, ya… jadi rasul sendiri. Jadi mesti ada utusan kita menerima ini, kita juga niat mengikuti utusan, Seperti itu. Lillah Billah Lirrosul.

Kemudian ada Birrosul. Ketika kita melakukan sesuatu yang baik, disamping merasa bahwa yang menggerakkan dan menciptakan adalah Tuhan, kita juga merasa bahwa kita bisa melakukan kebaikan itu karena jasa dari utusan Tuhan yang Maha Esa, tidak diakui sendiri kemampuannya sendiri, tapi itu karena jasa dari utusan Tuhan. Supaya tidak sombong.

Ada lagi Lilghouts – Bilghouts. Lilghouts – Bilghouts itu, al Ghouts itu kita percaya bahwa Tuhan ini setiap seratus tahun itu mengutus seseorang untuk memberi tugas kepada seseorang. Ini juga diniatkan. Di Wahidiyah ini tidak penting mengetahui siapa Ghoutsnya, siapa orang yang diberi tugas oleh Tuhan seperti itu, tapi ini ada, kita yakin ada, ini kita niati juga mengikuti bimbingan al Ghouts. Disamping merasa bahwa kita ini juga seperti ini jasa dari al Ghouts. Saya kira disemua agama ada, jadi tidak mungkin, Tuhan langsung kepada kita, pasti melalui orang, atau melalui utusan atau melalui apalah bahasanya.

Kemudian setelah Lillah – Billah – Lirrosul – Birrosul – Lilghouts – Bilghouts, ada lagi Yuktii Kullaz Dzii Haqqin Haqqoh. Yuktii Kullaz Dzii Haqqin Haqqoh ini di dalam kehidupan sehari-hari ini kita dibimbing untuk selalu melaksanakan kewajiban kita yang menjadi haq yang lain. Kewajiban kita sebagai hamba, haknya Allah haknya Tuhan yang Maha Esa untuk kita sembah, ya…. kita menyembah kepada Tuhan, kita melakukan perintahnya, menjauhi larangannya. Ini adalah Yuktii Kullaz Dzii Haqqin Haqqoh. Kewajiban kita kepada sesama manusia, kewajiban kita kepada keluarga, kewajiban kita sebagai pengurus kepada seluruh ummat yang akan mengamalkan Sholawat Wahidiyah ini, kita melayani ini kita laksanakan sebagai kewajiban. Ini masuk di Yuktii Kullaz Dzii Haqqin Haqqoh.

Seorang suami melaksanakan kewajiban, seorang istri melaksanakan kewajiban, seorang anak melaksanakan kewajiban, rumah tangga yang seperti ini akan mengalami kebahagiaan, dingin dalam rumah tangga, karena tidak ada yang menuntut hak, semuanya melaksanakan kewajiban, Yuktii Kullaz Dzii Haqqin Haqqoh. Jangan dibalik, kalau dibalik semua orang boleh menuntut haknya, nanti istrinya nuntut, suaminya nuntut, ya… bisa terpenuhi tapi situasi dalam tangga akan panas.

Pemerintah melaksanakan kewajiban, rakyat melaksanakan kewajiban, dingin Negara kita, tapi kalau rakyatnya ngeyel (tidak mau mengalah/ingin menang sendiri), menuntut pemerintah harus begini-begini-begini, pemerintahnya juga begitu, menuntut rakyat harus begini-begini, ini bisa terpenuhi tapi kondisi di negara yang seperti ini akan panas. Ini masuk di Yuktii Kullaz Dzii Haqqin Haqqoh.

Anak melaksanakan kewajiban, orang tua melaksanakan kewajiban, sesama teman juga sama-sama melaksanakn kewajiban. Yuktii Kullaz Dzii Haqqin Haqqoh, hanya bahasa, mohon maaf itu hanya bahasa. Bahasa itu sebenarnya budaya, boleh tidak saya ngomong misalkan segala puji bagi tuhan yang mengtur seluruh alam. Boleh ya…? boleh. Itu bahasa Indonesia kalau di arabkan Al-hamdu lillahi rabbil ‘alamin, itu bahasa. Bahasa itu budaya, kita jangan terkecoh dengan bahasa tapi isinya ini yang penting, tidak usah pangling (tidak mengenal lagi) dengan bajunya tapi isinya, orangnya. Walaupun siang ganti, malam ganti, itukan orangnya tetap, tidak usah pangling. Kita sudah Ketuhanan yang Maha Esa, jadi tidak perlu pangling.

Baca juga: Tanda Orang yang Cinta Kepada Beliau Rasulillah SAW

Kemudian jika ada beberapa kewajiban yang ada dihadapan kita, ini kita dibimbing oleh penyusun Sholawat Wahidiyah memilih yang Taqdiimul Aham Fal-Aham, mana yang paling tenting dari hal-hal penting ini. Contoh yang pernah dicontohkan beliau Muallif, seingat saya ketika kita itu melihat orang tenggelam bersamaan dengan itu kita harus sholat kalau orang islam dan harus wudhu waktunya mepet, sholat satu rakaat sudah habis bebarengan (bersama) dengan itu. Ini sudah sama-sama penting, menolong orang tenggelam ini sudah Al-Aham, sangat penting karena sudah bukan urusan sakit lagi, ini urusan nyawa. Kalau ya… nanti saya tak ibadah dulu, nanti tak tolong, ya… mati orang ini.

Melakukan ibadah kepada tuhan, sholat itu menurut Allah ini kalau orang Islamkan wajib, harus dilakukan. Ini sama-sama penting dan waktunya sudah mepet. Misalkan sholat dhuhur, siang. Ya nggak boleh dilakukan malam, aturannay siang kalau orang islam. Ini pada posisi yang sama-sama penting, sama-sama Aham, karena sudah tidak dapat dipilih, lha kalau orangnya itu hanya jatuh, misalkan tidak apa-apa, hanya perlu obat merah, lha itu mungkin mementingkan ibadah, ini dikasih obat merah sudah. Tapi ini kalau melakukan salah pilih nanti jadi masalah. Menolong orang tengelam ini adalah sesuatu yang paling banyak manfaatnya.

*Pengasuh Pondok Al-Ahsan Karangan, Bareng, Jombang, Jawa Timur

Sumber: youtube BPMW Surabaya

Tinggalkan Balasan