Nasehat Kyai As’ad, Ilmu yang Harus dicari

Allah menyebutkan bahwasanya umat Islam ialah sebaik-baik umat. Hal tersebut sangatlah pantas karena umat Islam yang mampu menjalankan apa yang telah dituntunkan oleh Rasulullah SAW, maka akan senantiasa melekatkankan pada pribadinya hanya perkara-perkara mulia. Beradab, santun, mempunyai akhlak yang baik kepada sesama makhluk ciptaan Allah, berperilaku baik serta bersikap sholeh, gemar menuntut ilmu karena merasa bodoh, dan senantiasa mencari jalan untuk kenal dan dekat kepada Allah.

Begitulah Allah, yang kenal dengan setiap makhluk yang diciptakan-Nya tanpa terkecuali, bahkan makhluk sekecil dan dimanapun berada semua tak pernah luput dari kenalnya Allah kepada makhluk-Nya tersebut.

Namun yang terjadi, terlebih kita sebagai manusia yang dholim berlumuran dosa ini justru belum benar-benar mengenal Allah sekalipun sebenarnya Allah itu sangat dekat dengan makhluknya.

Seperti kisah KH As’ad Syamsul Arifin, Sukorejo Situbondo dengan salah satu santrinya yang bernama Mahfudz, yang mana kepada santrinya tersebut Beliau memberikan Nasehat tentang ilmu tauhid, ilmu yang dapat mengenalkan seorang hamba kepada Tuhannya.

Baca juga: 3 Jimat Jenderal Soedirman Saat Melawan Penjajah

Dikisahkan ada salah satu santri yang bisa dibilang cukup dekat dengan KH As’ad Syamsul Arifin, Ia bernama Mahfudz. Karena kedekatannya kepada KH As’ad Syamsul Arifin, suatu hari Mahfudz mendapatkan nasehat yang sangat berharga dari Beliau tentang ilmu yang seharusnya dan sangat penting dimiliki bagi seorang santri. 

Dalam nasehatnya KH As’ad Syamsul Arifin berkata kepada Mahfudz. “ Apa kamu ingin terbang? Gampang! Masa kalah dengan burung-burung, padahal manusia itu lebih mulia daripada burung-burung. Ingin berjalan di atas air? Gampang! Masa kalah dengan ikan-ikan, padahal manusia lebih mulia daripada ikan-ikan. Ingin bertengger di atas dedaunan? Apalagi, itu tambah gampang! Masa kalah dengan capung, padahal manusia lebih mulia daripada capung,” tegas KH As’ad Syamsul Arifin. Mahfudz hanya bisa mendengarkan apa yang disampaikan Kyainya itu dengan penuh seksama.

KH As’ad Syamsul Arifin melanjutkan nasehatnya kepada Mahfudz “Kapan pun, aku sanggup mengajarimu ilmu-ilmu seperti itu. Bahkan saat ini juga, aku bisa mengajarimu, dan kau pun pasti langsung bisa. Mahfudz hanya bisa terdiam, hingga KH As’ad Syamsul Arifin berkata, “Tapi ilmu semacam itu mau dibuat apa?,” tegas Kiai As’ad, seraya terus menatap Mahfudz dengan tatapan kasih sayang.

Baca juga: Demi Menjaga Kehormatan, Seorang Ulama Pura-pura Tuli

Seiring tatapan kasih sayang seorang Kyai kepada santrinya itu, KH As’ad Syamsul Arifin kemudian menggenggam tangan Mahfudz, dengan suara lirih namun tetap bertenaga, Beliau berkata kepada Mahfudz.

“Cong, elmo se kodhu sare ben be’n benni elmo nga’ jeriya, tape elmo beremma abe’ se karaddhuwe ka Pangeran. (Nak, ilmu yang perlu kaucari bukan ilmu semacam itu, melainkan ilmu yang membuat dirimu layak diterima Tuhan)”

Itulah inti nasehat dari KH As’ad Syamsul Arifin kepada Mahfudz yang tak lain merupakan santrinya itu, sebagai bekal bagi Mahfudz dan juga para santri-santri lainnya agar terus mencari ilmu yang benar-benar dapat membuat hamba layak diterima Allah sehingga Allah ridho kepada-Nya.

Patut kita renungi bersama. Bagi KH As’ad Syamsul Arifin Ilmu kanuragan bukanlah ilmu jurus-jurus tenaga dalam sebagaimana kita ketahui selama ini dan yang banyak dicari orang-orang pada umumnya, melainkan ilmu-ilmu tauhid, ilmu yang dapat mengenalkan seorang hamba kepada Tuhan.

Baca juga: Teruslah Berdo’a dikala Susah Maupun Senang

Semoga kita termasuk hamba yang benar-benar kenal kepada Allah, tidak hanya sebatas di lisan semata. namun benar-benar merasa bahwa setiap gerak-gerik kita, setiap apa yang kita lakukan ini tak lepas dari niat semata-mata melaksanakan perintah-Nya.

Tinggalkan Balasan