Mbah Ma’roef Mengeluh, Do’anya Kurang Mustajab

Sebagai umat Muslim sudah menjadi sebuah keharusan berdo’a kepada Allah. Memohon hanya kepada Allah sebagai bentuk pengahambaan serta pengakuan bahwa kita hanyalah hamba yang tak mempunyai kemampuan apapun kecuali atas pertolongan Allah.

Allah tidak akan menyianyiakan do’a dari hamba-Nya, dan ketahuilah bahwa sebenarnya Allah begitu dekat dengan hamba-Nya yang senantiasa memanjatkan do’a kepada-Nya. Maka sangatlah pantas disebut sombong jika ada seorang manusia yang enggan berdo’a, memohon kepada Allah.

Baca juga: Syaikh Abu, Waliyullah yang Tak Fasih Baca Surat Al-Fatihah

Apapun hajat kita maka berdo’alah kepada Allah dengan bersungguh-sungguh. Hadirkan hati kepada Allah ketika berdo’a, serta jauhilah segala macam perkara yang hanya akan menjadi terhalangnya do’a, dengan seperti itu InsyaAllah apa yang kita harapkan akan di ijabahi Allah.

Jangan pula merasa berputus asa dikala apa yang kita do’akan belum di ijabahi Allah. Karena pengaruh dari do’a setiap hamba berbeda-beda, ada yang dengan cepat di ijabahi dan juga sebaliknya, namun semua itu kembali kepada diri pribadi setiap hamba. Bisa jadi tidak segera di ijabahi apa yang kita do’akan atau terhalangnya do’a kita, karena masih adanya makanan haram yang masuk dalam tubuh kita, masih adanya penyakit hati dan masih belum mampunya kita dalam mengendalikan hawa nafsu.

Ada sebuah kisah yang sangat patut menjadi sebuah renungan bagi kita semua, kisah dari para ulama besar terdahulu, selain dikenal alim, Beliau juga dikenal dengan keampuhan do’anya. Beliau adalah Mbah Ma’rof Kedonglo, Mbah Manab Lirboyo dan Mbah Abu Bakar Bandar Kidul.

Pada zamannya Mbah Ma’roef sangat masyhur dengan keampuhan do’anya. Bahkan dikisahkan pada zaman penjajahan, berkat do’a Beliau para santri bisa selamat dari ganasnya senjata api yang digunakan penjajah karena sebelumnya para santri telah dibekali do’a oleh Mbah Ma’roef.

Baca juga: Imam Nawawi, Ulama Sederhana yang Haus Ilmu

Meski do’a Beliau sangat ampuh, namun ternyata Mbah Ma’roef pernah mengeluh tentang kemerosotan do’anya kepada kedua (Karibnya), yaitu Mbah Manab Lirboyo dan Mbah Abu Bakar Bandar Kidul.

“Kang, nyapo yo dungane awake dewe saiki kemandhene kok gak koyo jaman nek pondok biyen.
(Kang, kenapa doa kita sekarang ini kemustajaban-nya tidak seperti ketika masih di pondok dulu?” Tanya Mbah Ma’roef kepada kedua karibnya itu.

Mbah Ma’roef bertanya seperti itu, Mbah Manab hanya terdiam karena bagi Mbah Manab do’a Mbah Ma’roef masih sangatlah ampuh namun masih saja merasa do’anya mengalami kemerosotan.

Mbah Abu bakar kemudian menyahuti pertanyaan Mbah Ma’roef. “Anu Kang Ma’roef, awake dewe saiki sering nekani kondangan, sering mangan enak-enak, maleh kurang prihatine. Mulane dungane kemandhene gak koyo jaman nek pondok biyen. Zaman semono akeh masaqqate, akeh tirakate”. (Anu Kang Ma’ruf, kita sekarang ini sering menghadiri undangan, sehingga sering makan enak-enak, kurang prihatin. Itulah yang menyebabkan doa kita merosot kemustajabannya, tidak seperti jaman di pondok dulu…. ketika itu banyak susahnya, banyak tirakatnya”.

Baca juga: Nasehat Kyai As’ad, Ilmu yang Harus dicari

Begitu kurang lebih kisah Mbah Ma’roef yang merasa do’anya mengalami kemerosotan. Dari kisah beliau seharusnya kita malu. Beliau-beliau adalah ahli ibadah, ahli prihatin atau tirakat dan diakui keilmuanya, namun masih merasa do’anya mengalami kemerosotan karena kurangnya prihatin.

Lalu bagaimana dengan kita, kita sangat jauh dari beliau-beliau di atas, tapi apa yang kita lakukan,  kita justru sangat sering menyalahkan Allah saat do’a kita tak segera di ijabi.

Tinggalkan Balasan