Mbah Kyai Dalhar Watucongol, 25 tahun Belajar di Makkah

Nahrowi. Itulah nama pemberian sang ayah kepada Mbah Kyai Dalhar saat beliau dilahirkan di Pesantren Darussalam, Watucongol, Muntilan, Magelang, Rabu, 10 Syawal 1286 H atau 10 Syawal 1798 – Je (12 Januari 1870 M).

Ayah Mbah Kyai Dalhar bernama Abdurrahman bin Abdurrauf bin Hasan Tuqo, seorang da’i. Disamping itu Kyai Abdurrauf adalah salah seorang panglima perang Pangeran Diponegoro. Sedangkan nasab Kyai Hasan Tuqo sampai ke Sunan Amangkurat Mas atau Amangkurat III. Sebagai keturunan raja, Kyai Hasan Tuqo juga mempunyai nama lain dengan sebutan Raden Bagus Kemuning.

Baca juga: Mbah Ma’roef Mengeluh, Do’anya Kurang Mustajab

Lahir di lingkungan pesantren, sejak kecil oleh sang ayah, Mbah Kyai Dalhar dididik untuk mencintai ilmu agama. Bahkan sang ayah sendiri yang mendidik Mbah Kyai Dalhar mulai dari belajar membaca Al-Qur’an serta beberapa dasar ilmu keagamaan.

Barulah saat Mbah Kyai Dalhar menginjak usia 13 tahun, Beliau mulai belajar kepada Kyai Mad Ushul di Dukuh Mbawang, Desa Ngadirejo, Kecamatan Salaman, Kabupaten Magelang. Disanalah Beliau belajar ilmu tauhid selama kurang lebih 2 tahun.

Usai belajar ilmu tauhid kepada Kyai Mad Ushul, Mbah Kyai Dalhar melanjutkan belajar pada Syaikh as-Sayyid Ibrahim bin Muhammad al-Jilani al-Hasani, atau yang dikenal dengan Syaikh Abdul Kahfi ats-Tsani selama 8 tahun do Pesantren al-Kahfi Somalangu, Kebumen. Dan setelah itu Beliau diminta Syaikh as-Sayyid Ibrahim bin Muhammad al-Jilani al-Hasani untuk menemani putra laki-laki tertuanya yang bernama Sayyid Abdurrahman al-Jilani al-Hasani menuntut ilmu ke Makkah al-Mukarramah.

Baca juga: Syaikh Abu, Waliyullah yang Tak Fasih Baca Surat Al-Fatihah

Menemani putra sang guru. Mbah Kyai Dalhar dan Sayyid Abdurrahman al-Hasani berangkat menuju Makkah dengan naik kapal laut dari pelabuhan Tanjung Mas, Semarang. Namun sebelum sampai di Pelabuhan Tanjung mas, Semarang, sebagai bentuk ta’dzim Mbah Kyai Dalhar kepada putra gurunya, dikisahkan beliau memilih jalan kaki dari kebumen, menuntun kuda yang dikendarai oleh Sayyid Abdurrahman, padahal Sayyid Abdurrahman telah mempersilahkan Mbah Kyai Dalhar untuk naik kuda bersama. 

Sesampainya di Makkah, Mbah Kyai Dalhar dan Sayyid Abdurrahman tinggal di asrama para santri Syaikh as-Sayyid Muhammad Babashol al-Hasani.

Disanalah Mbah Kyai Dalhar mendapat kesempatan menuntut ilmu selama 25 tahun lamanya, yang kemudian Syaikh as-Sayyyid Muhammad Babashol al-Hasani memberi nama “Dalhar” pada Mbah Kyai Dalhar. Mbah Kyai Dalhar juga mendapat ijazah kemusrsyidan Thariqah Syadziliyyah dari Syaikh Muhtarom al-Makki dan ijazah aurad Dalailul Khairat dari as-Sayyid Muhammad Amin al-Madani. 

Dengan bekal ilmu yang dimiliki Mbah Kyai Dalhar, banyak kitab yang telah di tulis Beliau, diantaranya kitab Tanwir al-Ma’ani. Kitab berbahasa Arab tentang manaqib Syaikh as-Sayyid Abul Hasan Ali bin Abdullah bin Abdul Jabbar asy-Syadzili al-Hasani, imam Thariqah Syadziliyyah.

Baca juga: Imam Nawawi, Ulama Sederhana yang Haus Ilmu

Banyak ulama besar negeri ini yang sempat berguru kepada Mbah Kyai Dalhar. Diantaranya KH. Mahrus Aly Lirboyo, Abuya KH. Dimyathi Banten, KH. Marzuki Giriloyo dan masih banyak lagi ulama besar lainnya yang berguru kepada  beliau.

Mbah Kyai Dalhar meninggal pada hari Rabu Pon, 29 Ramadhan 1890 – Jimakir (1378 H) atau bertepatan dengan 8 April 1959 M setelah mengalami sakit kurang lebih 3 tahun.

Tinggalkan Balasan