kyai siroj payaman

Kyai Siroj Payaman, Hati yang Selalu Ingat Allah

Di Payaman, Magelang, Jawa Tengah ada salah satu ulama yang sangat masyhur dengan kewaliannya. Beliau adalah Mbah Kyai Siroj Payaman atau akrab dengan panggilan Romo Agung. Dibandingkan dengan orang-orang pada umumnya, Beliau juga seorang ulama yang sangat kuat ibadahnya.

Kehidupan Kyai Siroj mencerminkan sebuah sederhana, bersahaja serta bijaksana. Dalam bertutur kata Beliau memiliki ciri lemah lembut terlebih saat memberikan wejangan berupa ceramah dan nasihat kepada santri-santri yang menimba ilmu pada Beliau.

Keilmuan yang ada pada Kyai Siroj memang tak perlu di pertanyakan dan tak perlu diragukan lagi. Karya-karya Beliau masih terkenal sampai saat ini, diantaranya: erang-erang sekar panjang dan Tafsir Surat Yasin. Di Magelang, Beliau jugalah yang pertama kali mengadakan pengajian keliling dari satu tempat ke tempat yang lain. Atas keberaniannya kala itu membela rakyat yang diperlakukan semena-mena oleh penjajah Belanda, Kyai Siroj pernah dimasukkan ke dalam penjara.

Baca juga:

Ada sebuah kisah menarik saat Kyai Siroj berkunjung ke Salatiga bersama dengan Kyai Munajat, yang tak lain untuk bersilaturrahmi ke rumah sahabatnya yang bernama KH Dardiri. Kala itu telah masuk waktu shalat isya’. Menyadari sang tuan rumah sedang menyiapkan aneka macam jamuan makanan, Kyai Siroj pun segera melaksanakan shalat Isya’, baru kemudian akan menikmati jamuan makanan yang sudah disiapkan oleh tuan rumah bersam-sama.

Setelah jamuan makanan telah benar-benar siap, ternyata Kyai Siroj tak juga segera beranjak dari tempat Beliau shalat. Meski telah usai melaksanakan shalat Isya’, Beliau masih menyambungnya dengan melaksanakan shalat-shalat sunnah lainnya. Itu sebagai bukti jika Kyai Siroj memang seorang ulama yang sangat kuat beribadah.

Sambil berbincang Bersama dengan Kyai Munajat, sang tuan rumah hanya bisa  menunggu Kyai Siroj usai melaksanakan shalatnya. Barulah sekitar pukul 02.00 dini hari Kyai Siroj beranjak dari tempat shalatnya yang kemudian menghampiri Kiai Munajat dan KH Dardiri lalu bertanya “Lha, masakannya apa sudah matang?”

Meski terdengar biasa saja, namun sebenarnya pertanyaan itu bukan sembarang pertanyaan. Pertanyaan Kyai Siroj tersebut sebagai gambaran betapa nikmatnya Beliau saat melaksanakan shalat, sehingga shalat yang berjam-jam itu terasa sangat singkat bagi Kyai Siroj.

Tak sampai disitu, untuk membuktikan jika Kyai Siroj memang seseorang yang memiliki kelebihan. KH Dardiri kemudian bertanyaan kepada Kyai Siroj. 

“Mbah, wedangnya (minumannya) sudah manis apa belum?”

Baca juga:

Meski baru saja meminum wedang yang dihidangkan, Kyai Siroj tidak lekas menjawab pertanyaan dari KH Dardiri.  Kyai Siroj malah mengambil gelas berisi wedang lalu meminumnya lagi. Saat itulah Kyai Siroj baru menjawab jika wedang yang diminumnya sudah manis.

Itu membuktikan, jika hati Kyai Siroj Payaman senantiasa ingat kepada Allah sehingga minuman yang terasa manis sekalipun dan baru saja Beliau rasakan, sangat mudah sekali Beliau lupakan, seakan segala apa yang ada di dunia ini tak ada tempat di hati Kyai Siroj kecuali kecintaan Beliau kepada Allah.

“bangkitmedia.com”

Satu pemikiran pada “Kyai Siroj Payaman, Hati yang Selalu Ingat Allah”

Tinggalkan Balasan