Kyai Muhsin: Sopir Pribadi yang diangkat Menjadi Waliyullah

Kisah Inspiratif

Secara defenisi, sebutan waliyullah adalah orang yang mendekat dan menolong agama Allah atau orang yang didekati dan ditolong Allah. Seperti yang telah difirmankan Allah SWT dalam surat Yunus Ayat 62-64 yang artinya Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. Yaitu orang-orang beriman dan selalu bertaqwa.

Sedekah Online

Ada sebuah kisah nyata yang dialami oleh seorang pria bernama Muhsin. Beliau adalah seorang sopir pribadi dari seorang juragan di Bululawang, Malang, Jawa Timur. Yang akhirnya beliau dikenal ke waliannya.

Dikisahkan suatu ketika, Kyai Muhsin yang kala itu masih menjadi sopir, diminta sang majikan untuk mengantarkan sowan ke Pasuruan, tepatnya sowan kekediaman  KH. Abdul Hamid atau dikenal dengan Kyai Hamid.

Kyai Muhsin menuruti permintaan sang majikan. Dengan pakaian sederhana, Beliau segera menuju ke Pasuruan dan setelah menempuh waktu kurang lebih satu jam, Beliau telah sampai di kediaman KH. Abdul Hamid.

Sebagai seorang sopir, Kyai Muhsin hanya menunggu di luar kediaman Kyai Hamid, sedangkan majikannya segera menuju ke kediaman Kyai Hamid. Hingga beberapa saat kemudian, majikan Kyai Muhsin yang seorang juragan itu malah kembali menghampiri Kyai Muhsin.

Majikan Kyai Muhsin berkata “Kyai Hamid tidak mau menerima kedatanganku, kalau kamu tidak ikut masuk”.

Kenapa Kyai itu tak mau menerima majikanku kalau aku tak ikut masuk, Tanya Kyai Muhsin dalam hati dengan penuh rasa penasaran.

Barulah setelah Kyai Muhsin ikut masuk ke dalam kediaman Kyai Hamid mengikuti majikannya, Kyai Hamid menerimanya dengan hangat. Tak sampai disitu, ditengah perbincangan, Kyai Hamid juga bertanya kepada Kyai Muhsin tentang amalan apa saja yang dilakukannya selama ini.

Dengan tenang Kyai Muhsin menjawab jika selama ini hanya melakukan amalan layaknya masyarakat pada umumnya.

Baca juga: Kejujuran Syekh Abdul Qadir Al-Jailani Membuat Perampok Menangis

Masih dengan dipenuhi rasa penasaran, majikan Kyai Muhsin kemudian menanyakan alasan Kyai Hamid tak mau menerima kedatangannya jika tak mengajak masuk sopirnya.

Diiringgi dengan guyonan, Kyai hamid mejelaskan alasannya, yang ternyata Kyai Hamid mengetahui tanda-tanda bahwa suatu saat nanti Kyai Muhsin akan diangkat menjadi waliyullah dan juga akan memiliki pesantren besar.

Mendengar alasan Kyai Hamid, membuat Kyai Muhsin tertunduk malu, karena merasa alasan yang diungkapkan tentang dirinya berlebihan.

Namun apa yang diungkapakan Kyai Hamid ternyata memang menjadi sebuah kenyataan, tak lama setelah kejadian itu, mulai berdatangan orang tua mengantarkankan anaknya untuk belajar kepada Kyai Muhsin.

Seiring bejalannya waktu, santri Kyai Muhsin kian bertambah banyak, bahkan dalam kurun waktu satu tahun, Pondok Pesantren Al-Maqbul yang didirikan Kyai Muhsin, yang terletak di daerah Bululawang, Kabupaten Malang telah memiliki 100 santri dari berbagai daerah.

Jumlah santri Kyai Muhsin terus bertambah. Bahkan setelah beliau meninggal, hingga kini jumlah santri yang menuntut ilmu di Pondok Pesantren Al-Maqbul telah mencapai sepuluh ribuan santri.

Itulah sepengal kisah Kyai Muhsin yang awalnya seorang sopir, namun beliau kemudian diangkat derajatnya oleh Allah SWT lantaran ketaatannnya kepada Allah dengan tidak pernah meninggalkan sholat lima waktu dan senantiasa berusaha menjalankan sunah-sunnah Rasulullah SAW lainnya.

 

Tinggalkan Balasan