mbah kastarai

Kisah Mbah Kastari yang Tak Mau dipanggil Kyai

Mbah Kastari. Begitu masyarakat memanggil memanggilnya. Beliau memiliki nama asli Kastari bin Maulana Maghribi Wonobodro, lahir di Kendal pada 15 Juli 1935. Tak lain Beliau adalah sesepuh Desa Pagerdawung, Kecamatan Ringinarum, Kabupaten Kendal. 

Kehidupan Mbah Kastari tak jauh berbeda dengan kehidupan masyarakat pedesaan pada umumnya, Namun selain menjadi petani Beliau juga disibukkan dengan mengajar ngaji serta menjadi imam Mushola.

Kesederhanaan begitu tercermin dari kehidupan Mbah Kastari, meski terlihat kekurangan, Beliau tak pernah merasa kekurangan, justru sebaliknya Beliau senantiasa mensyukuri setiap pemberian Allah “Alhamdulillah Gusti Allah wes maringi nikmat. Sitik gak popo daripada raono (Alhamdulillah Gusti Allah sudah memberikan nikmat, Sedikit tidak apa-apa daripada tidak ada).

Baca juga:

Meski sebenarnya Mbah Kastari sangat pantas menyandang gelar Kyai dengan keilmuan yang dimilikinya, namun nyatanya Beliau justru tak mau jika orang-orang memanggil Beliau dengan sebutan Kyai. Suatu ketika ada salah satu cucu beliau yang berkata “enak ya jadi kyai di hormati banyak orang, aku pengen seperti mbah.

Mendengar cucunya berkata seperti itu, dengan tersenyum Mbah Kastari menyahuti “cu, jadi kyai itu banyak gaenaknya loh tanggung jawabnya besar tantangan untuk zuhudnya juga susah, bisa-bisa kalo kita tidak bisa mengendalikan nafsu nanti title kyai malah membuat kita sombong makanya mbah lebih baik dipanggil Mbah Kastari jangan kyai.

Tak hanya itu, dalam berbagai kesempatan saat mengisi pengajian, Mbah Kastri juga menyinggung tentang gelar kyai. Bagi Mbah Kastari, kyai adalah penyematan gelar yang berat untuk dipikul. “Kyai itu apa? Semua itu ada aturanya kenapa seorang dianggap sebagai kyai. Kalian terlebih saya pribadi jangan berharap dipangil kyai. Jadi kyai itu berat, Jalani aja, sampaikan apa yang kamu tahu dan berharaplah hanya kepada Allah SWT.

Selain dikenal sangat sedehana, Mbah Kastari juga dikenal penyabar, “Mbah yai itu baik banget, Ngajar ngajinya juga mudah dipahami. Jika ada santri yang salah tidak pernah dimarahi kecuali pernah anak kakak saya nggak bisa ngaji akhirnya dimarahi karena beliau merasa malu bisa mendidik anak orang kok cucu sendiri ngak bisa, mungkin itu pikir Beliau,” kenang putra Beliau.

Sebelum akhirnya meninggal pada tahun 2002, Mbah Kastari mengalami sakit selama beberapa pekan. Meski Beliau sebenarnya tahu apa yang membuatnya sakit, namun awalnya Beliau memilih diam, dengan tidak menceritaknnya kepada siapa pun termasuk kepada anak-anaknya.

Hingga karena kondisi kesehatan Mbah Kastri kian menurun, anak pertama Beliau mengetahui jika sakit yang diderita ayahnya bukanlah sakit biasa, yang kemudian diketahui jika sakit Mbah Kastari akibat di diguna-guna” oleh orang yang tidak suka dengan dirinya. 

Baca juga: 

Setelah mengetahui jika ayahnya diguna-guna. Anak-anak Mbah Kastari merasa tidak terima dan berkeinginan membalasnya. Tapi lain dengan Mbah Kastari. Beliau justru melarang anak-anaknya membalas apa yang dilakukan orang yang tidak suka dengannya.

“Anak anakku, mati ini adalah urusan Allah SWT , Lauhul Mahfuz tidak pernah salah. Mungkin ini adalah pelajaran bagi bapakmu ini yang penuh dosa ketika hidup di dunia. Bapakmu ini ikhlas nak biarkan mereka melakukan apa yang mereka mau. Kita berdoa aja kepada Allah, jangan balas keburukan dengan keburukan, balaslah dengan kebaikan. Bapakmu sudah ikhlas, jika nanti bapak meninggal jangan pernah ungkit-ungkit masalah ini. Berikan senyuman, bapak sudah ihlas, Lillahhita’ala. Do’akan bapak agar selalu berada di jalan Allah dan mati juga dijalan Allah” Itu adalah pesan terakhir Kyai Kastari kepada putra-putrinya, dan juga  kepada santri-santrinya.

Tinggalkan Balasan