habib ahmad tempel

Habib Ahmad Tempel, Dibimbing Rasulullah & Nabi Khidir

Masa kecil Al-Habib Ahmad Bafaqih (Habib Ahmad Tempel) memang berbeda jika dibandingkan dengan anak-anak seusianya. Putra dari Habib Ali Bafaqih yang dikenal tegas ini, semasa kecilnya justru sering mendapatkan hinaan dari orang-orang.

Bagi Al-Habib Ahmad Bafaqih, hinaan yang ditunjukkan kepadanya seakan sudah menjadi makanan sehari-hari. Tak lain hinaan yang terus ditunjukkan kepada Al-Habib Ahmad Bafaqih karena Beliau memang memiliki kekurangan fisik ditambah lagi Beliau yang kala itu masih sangat miskin. 

Namun, meski mendapat banyak hinaan, nyatanya semua itu tak membuat Al-Habib Ahmad Bafaqih merasa susah dan sedih, beliau tetap sabar dan tidak pernah punya niatan untuk membalas hinaan tersebut.

Hingga kemudian atas kesabaran serta kesucian hatinya. Al-Habib Ahmad Bafaqih diangkat derajatnya menjadi waliyullah dengan dianugerahi oleh Allah berupa Futuhal ‘Arifiin, kasyaf dan ilmu ladunni, padahal diriwayatkan Beliau tidak menempuh pendidikan formal.

Baca juga;

Pernah suatu ketika terjadi percakapan antara  Al-Habib Ahmad Bafaqih dengan Abuya Habib Ahmad bin Husein Assegaf Bangil. Dalam percakapan tersebut Abuya Habib Ahmad bin Husein Assegaf Bangil bertanya kepada Al-Habib Ahmad Bafaqih perihal guru Beliau serta awal mula kewaliyannya.

Mendapat pertanyaan seperti itu, maka al-Habib Ahmad Bafaqih menjawab, jika gurunya adalah Rasulullah Saw dan Nabi Khidhir As. Beliau kemudian juga menceritakan awal mula kewaliyannya.

Dulunya aku hanya orang miskin, ayahku wafat sedangkan aku mempunyai saudara perempuan banyak. Aku ini cacat dan tidak bisa bekerja. Karena dirumah tidak ada sama sekali makanan, maka saudari-saudariku merasa sangat kelaparan sehingga memintaku untuk mencari makanan.

Kala itu yang ada dibenakku, dari mana aku mendapatkan makanan?”. Mau usaha apa? Wong jalan saja aku harus tertatih-tatih sambil berpegangan tembok…Badanku cacat”.

Meski begitu, aku tetap berusaha mencari makanan agar saudari-saudariku tak kelaparan. Selama perjalananku mencari makanan, rasanya tidak ada yang peduli kepadaku, jangankan memberi makanan, menjawab salamku saja mereka tak mau karena melihat keadaan diriku yang cacat dan miskin.

Aku pun melanjutkan perjalanan. Karena merasa lelah Aku istirahat dan duduk -duduk di dalam Masjid Agung Jogjakarta sampai malam hari. Aku kemudian disuruh keluar oleh penjaga Masjid karena pintu  Masjid akan ditutup dan jika aku tak segera keluar maka aku akan dikunci dari luar.

Karena tetap tak mau keluar, maka aku pun tetap berada di dalam Masjid sedangkan pintu Masjid telah di kunci dari luar.Dalam kesendirianku “Aku hanya bisa menangis dan menangis di dalam Masjid. Aku mearas sangat putus asa dari manusia. Hingga di tengah larut malam, aku bermunajat kepada Allah Swt: “Tidak ada Manusia yang mau kepadaku, siapa lagi yang mau memungut diriku, selain Engkau yaa Allah…Aku mengeluh Kepada-Mu, aku Berpasrah diri Pada-Mu”, itulah Doa yang aku Panjatkan Kepada Allah Swt”.

Ditenggah munajatku, kemudian aku mendengar suara salam “Assalamu ‘Alaikum”.

“Wa ‘alaikumussalaam”. Jawabku

“Anda siapa?”. Tanyaku kepada seseorang yang dengan tiba-tiba muncul tepat dihadapanku.

“Aku Kakekmu Muhammad Rasulullah Saw ,“ Jawab orang itu.

Baginda Rasulullah Saw kemudian berkata kepadaku :

Innaa Fatahnaa Laka Fathan Mubiinaa”.

”Nanti akan datang orang yang mengajarmu”.

Dan benar saja tak lama kemudian datang Nabi Khidhir memberi kabar bahwa mulai besok rezekiku akan datang ke rumah dan orang-orang akan datang ke rumahku.

Keesokan harinya aku memutuskan untuk pulang ke rumah dengan keadaan belum membawa makanan, sedangkan saudari-saudariku masih kelaparan. Namun tak lama kemudian datanglah orang membawa makanan ke rumah.

Baca juga: 

Saat itulah Nabi Khidhir telah mengajariku menulis Azimat di sebuah kertas. Semenjak saat itu Al-Habib Ahmad Bafaqih merasa jika rumahnya tak pernah sepi dari tamu. Masyarakat umum, para pejabat sampai wali dari Mekah seperti Sayyid Muhammad Alwi Al-Maliki turut berkunjung ke sana.

Begitulah sepenggal kisah dari Al-Habib Ahmad Bafaqih atau Habib Ahmad Tempel yang diangkat menjadi waliyullah setelah mendapatkan berbagai macam hinaan serta penderitaan.

Tinggalkan Balasan