gus miek

Gus Miek, 30 Hari Mendidik Sang Istri

Banyak kisah menarik yang menggiringi perjalanan hidup KH Hamim Jazuli atau lebih dikenal dengan Gus Miek, terlebih cara dahwah Beliau yang menurut banyak orang tidak biasa bahkan bisa dikatakan tidak lazim. Tak lain Beliau adalah putra KH Jazuli Utsman, pendiri Pondok Pesantren Al-Falah, Ploso, Kediri, Jawa Timur. 

Namun tak hanya cara dakwanya yang tak biasa, karena dalam urusan mencari pendamping hidup atau istri, Beliau juga mempunyai cara yang berbeda, dimana Beliau dipertemukan dengan seorang wanita bukan dari lingkungan pondok pesantren. 

Dikisahkan, Gus Miek yang sering kali melakukan dakwah di diskotik atau tempat-tempat hiburan berhasil membuat satu orang bertaubat, hingga di tengah perjalanan dakwahnya, Beliau melihat ada seorang wanita berparas cantik. Merasa tertarik akan kecantikan wanita yang dilihatnya maka Beliau memutuskan untuk mengikutinya sampai ke rumah wanita tersebut.

Baca juga:

Tak hanya merasa tertarik dengan paras cantik wanita yang baru saja dilihatnya, namun Gus Miek juga merasa telah jatuh hati padanya, maka selanjutnya Beliau mencari tahu berbagai hal tentang wanita  cantik itu dan setelah mengetahuinya, Beliau mantap untuk melamar dan akan menikahi wanita cantik itu.

Wanita Cantik itu bernama Lilik Suyati atau akrab dipanggil Lilik. Seorang pemain tenis meja handal, bahkan dari kehandalannya bermain tenis meja, Beliau sering mengikuti perlombaan. 

Meski wanita yang baru dikenalnya tidak memiliki latar belakang pendidikan agama terlebih pendidikan pondok pesantren, tapi Gus Miek mempunyai penilaian sendiri, sehingga tetap menyukainya dan berkeinginan untuk segera menikahinya.

Karena alasan itulah, awalnya pihak keluarga Gus Miek, terlebih ayah Beliau, KH. Djazuli bin Ustman yang memang seorang Kyai Besar, kurang setuju dengan pilihan Beliau yang akan menikahi wanita yang tidak memiliki pengetahuan agama Islam.

Tapi tidak semua keuarga Gus Miek kurang setuju dengan pilihan Beliau. Ada salah satu keluarga Beliau yang justru memberikan pernyataan jika wanita pilihannya adalah wanita yang akan mampu dan bisa menjadi pendampingnya. Karena Gus Miek mempunyai cara berdakwahnya berbeda dengan orang biasa. Beliau sering merantau ke berbagai daerah, berbagai tempat perjudian, tempat diskotik dan tempat-tempat hiburan lainnya. Itulah yang akhirnya membuat ayah Gus Miek setuju atas pernikahan anaknya dengan wanita bernama Lilik itu.

Setelah menikah dengan Gus Miek yang merupakan putra dari seorang Kyai yang memiliki banyak santri, maka melekatlah panggilan Nyai pada Lilik Suyati. Kehidupan Nyai Lilik berubah totol setelah pernikahannya dengan Beliau. Nyai Lilik yang awalnya hanya wanita biasa, seorang pemain tenis meja, berubah menjadi seorang wanita yang menyandang sebutan Nyai, hidup dilingkungan pesantren, yang artinya membuat Beliau harus banyak belajar memahami berbagai ilmu agama.

Dalam mendidik istri yang baru saja dinikahinya Gus Miek memerintahkan kepada Nyai Lilik tidak boleh keluar kamar sekaligus tidak boleh bertemu dengan siapa pun dari malam pertama sampai malam ke-30. Jika sang istri merasa lapar, Beliau akan segera menyiapkan makanan dan akan mengantarkannya ke kamar. Dan ternyata itulah cara Beliau membimbing sang istri mempelajari tentang berbagai ilmu agama dan membimbing Nyai Lilik menghafal 30 juz Al-Qur’an.

Baca juga:

Meski selama berumah tangga, Gus Miek masih menjalani kegiatannya berdakwah dari satu tempat ke tempat lainnya, sering hidup diluar rumah dan jarang berkumpul dengan keluarga,  itu semua tidak membuat Beliau lupa dengan anak istrinya. Itu terbukti hingga Beliau meninggal, Beliau hanya memiliki seorang istri yaitu Nyai Lilik.

Dari pernikahannya dengan Nyai Lilik, Gus Miek dikaruniai enam anak, Empat putra dan dua putri: gus Tajjuddin Heru Cokro, Agus Sabuth Pranoto Projo, Agus Tijani Robert Syaifunnawas, Agus Orbar Sadewo Ahmad, Tahta Alfina Pagelaran, Ning Riyadin Dannis Fatussunnah.

“santrinow.com”

Tinggalkan Balasan