Dakwah KH Chudlori: Gamelan Dulu, Masjid Kemudian

Salah satu pesantren ternama di tanah air adalah Pondok Pesantren Asrama Perguruan Islam (API) yang ada di Tegalrejo, Kabupaten Magelang. Didirikan oleh KH Chudlori pada tahun 1944, seorang ulama sederhana yang memilih jalan dakwah dengan pendekatan hati serta kegembiraan beragama menjadi salah satu hal penting dalam dakwah yang disampaikannya.

KH Chudlori sendiri merupaka seorang ulama yang juga berasal dari Desa Tegalrejo. Tak lain Beliau adalah menantu dari KH. Dalhar pengasuh Pondok Pesantren ”Darussalam” Watucongol Muntilan Magelang.

Pesantren yang didirikan semula tanpa nama itu menjadi awal KH Chudlori untuk lebih mengakrabkan dakwahnya dengan warga abangan di sekitarnya, hingga akhirnya, setelah berkembang menjadi pusat pendidikan agama yang besar sekaligus atas desakan banyak pihak, Mbah Chudlori memberinya nama Asrama Perguruan Islam (API) Tegalrejo.

Tak hanya melahirkan guru dalam arti pengajar. Bahkan lulusan pesantren API  banyak yang sukses menjadi tokoh penting. Yang salah satunya ialah Abdurrahman Wahid atau akrab disapa Gus Dur, dimana pernah menjabat sebagai Presiden keempat RI.

Semasa hidupnya KH Chudlori memang dikenal sangat dekat dengan masyarakat setempat. terlebih KH Chudlori selalu bisa menjadi teman bagi warga masyarakat, sebagai tempat berkeluh kesah atas berbagai permasalahan hidup yang dialami masyarakat.

Baca juga: Jelang Idul Adha, Pondok Al-Ahsan Ajak Masyarakat Berqurban

Dikisahkan suatu ketika, ada serombongan warga datang sowan ke Mbah Chudlori (panggilan akrab masyarakat kepada KH Chudlori). Menurut catatan Gus Yus, salah satu putra KH Chudlori, peristiwa itu terjadi saat Gus Dur nyantri di Tegalrejo, karena disebutkan saat itu Gus Dur ikut mendampingi Mbah Chudlori menemui para tamu tersebut.

Tak lain para tamu itu datang untuk menyelesaikan perbedaan pendapat sengit dari warga terkait pemanfaatan dana kas desa, karena ada yang berkeinginan untuk membangun masjid, namun sebagian ingin membeli gamelan untuk hiburan warga. Atas dasar itulah mereka meminta pertimbangan kepada Mbah Chudlori untuk menentukan pilihan.

Saran Mbah Chudlori di luar dugaan. Agar masyarakat guyub dan rukun. “Mbah Chudlori justru mengatakan, bahwa yang penting masyarakat guyub, rukun, dan desanya tentram. Untuk itu, Mbah Chudlori menyarankan dana kas tersebut lebih baik untuk membeli gamelan saja,” kata Gus Yus.

Baca juga: Romantis Ala Gus Mus: Opor Ayam & Sambal Jeruk

“Mbah Chudlori mengatakan, ‘Nanti kalau masyarakatnya sudah rukun dan guyub, masjidnya pasti akan berdiri dengan sendirinya’. Akhirnya betul, setelah masyarakat yang menginginkan masjid bisa mengalah (uangnya) untuk beli gamelan, akhirnya belakangan warga kompak lalu gotong royong membangun masjid yang besar,” papar Gus Yus.

“Apalah gunanya masjid itu berdiri megah, tapi masyarakatnya congkrah (tak bersatu), masyarakatnya tidak rukun. Akhirnya masjid hanya simbol, tapi kosong tidak ada isinya. Yang diharapkan tidak seperti itu. Masjid ya harus betul-betul dari masyarakat, itu salah satunya,” katanya.

Setelah KH Chudlori wafat pada tahun 1977, Ponpes API kemudian dilanjutkan oleh KH Abdurrahman Chudlori (kakak tertua) dan KH Muhammad Chudlori. Namun setelah keduanya meninggal, pengasuh ponpes diteruskan, KH Mudrik Chudlori, KH Hanif Chudlori dan Gus Yusuf/Gus Yus.

Para putra KH Chudlori berusaha untuk terus menjaga peninggalan orang tua yang baik dan relevan. Oleh karena itu, pondok pesantren salaf dengan racikan dan metode kuno, namun masih dibutuhkan tetap dijaga.

Lebih dari itu, hingga kini Ponpes Tegalrejo juga terus menjalin hubungan baik dengan kelompok-kelompok seni lokal di Magelang dan sekitarnya. Gus Yus masih terus mengikuti dan mendukung kegiatan kesenian rakyat yang berkembang di daerah tersebut. Meneruskan berdakwah dengan hati ala KH Chudlori.

Sumber: news.detik.com

Tinggalkan Balasan

WhatsApp chat