6 Karomah Rabi’ah al-Adawiyah, Kecintaan Kepada Allah

Rabi’ah al-Adawiyah merupakan satu diantara ulama sufi perempuan yang dalam peradaban agama Islam sangat disegani. Apa yang ada pada Rabi’ah al-Adawiyah hingga kini terus di kaji terutama Pemikiran dan laku spiritualnya. Bahkan tak sedikit buku yang telah tersebar diberbagai belahan dunia mengisahkan perjalanan hidup Rabi’ah al-Adawiyah.

Kecintaan Rabi’ah al-Adawiyah sangatlah dalam dan kuat kepada Allah, bukan lantaran takut atau harap kepada Allah seperti orang-orang pada umunya, yang melaksanakan segala perintah Allah berlandaskan takut masuk neraka atau mengharap dan mendambakan masuk surga.

Baca juga: Meneladani KH. Abdul Madjid Ma’roef “Muallif Sholawat Wahidiyah”

Tidak demikian bagi Rabi’ah al-Adawiyah, Ia sangat mencintai Allah sehingga ia tak mampu mencintai yang lainnya. Bahkan Rabi’ah al-Adawiyah pernah berujar bahwa Ia tidak mendambakan surga dan tidak takut kalau dimasukkan neraka.

Rabi’ah al-Adawiyah dikenal sebagai seorang hamba yang taat kepada Allah dan istiqomah dalam urusan ibadah. Setiap hembusan nafasnya senantiasa diiringi dengan dzikir kepada Allah, maka sangatlah pantas jika Rabi’ah al-Adawiyah dikenal sebagai seorang waliyullah sebagaimana dikemukakakn oleh Syekh Zarruq, setidaknya ada tiga sifat yang dimiliki seorang wali; mengutamakan Allah, (hatinya) berpaling dari makhluk-Nya, dan berpegang tegug pada syariat Nabi Muhammad SAW dengan benar.

Baca juga: Abuya Dimyati, Ulama Kharismatik Banten

Dari kehidupan Rabi’ah al-Adawiyah juga banyak dikisahkan bagaimana kelebihan atau karomah yang dimiliki oleh Rabi’ah al-Adawiyah sebagaimana tercantum dalam buku Rabi’ah; Pergulatan Spiritual Perempuan karya Margaret Smith.

1. Jinaknya Binatang Buas

Kala itu Rabiah Rabi’ah al-Adawiyah sedang melakukan perjalan di sebuah gunung. Tiba-tiba ada banayak binatang buas yang mendekatinya. Bukan untuk menyerang, bintang-binatang buas itu justru sangat jinak dan ingin bermain bersama Rabi’ah al-Adawiyah.

2. Unta yang hidup lagi

Dikisahkan dengan menaiki unta Rabi’ah al-Adawiyah melakukan perjalanan haji ke Baitullah Mekkah. Belum juga Rabi’ah al-Adawiyah sampai di Baitullah Mekkah, unta yang dinaikinya mati. Saat itulah Ia berdo’a kepada Allah, yang tak lama kemudian unta yang sudah mati itu hidup kembali.

3. Ujung jari bercahaya

Di dalam rumah Rabi’ah al-Adawiyah tidak ada penerangan, padahal malam itu Rabi’ah al-Adawiyah bersama dengan sahabatnya akan melakukan diskusi. Yang dilakukan Rabi’ah al-Adawiyah, Ia meniupkan ujung-ujung jarinya hingga mengeluarkan cahaya terang, meneranggi seluruh sudut rumah Rabi’ah al-Adawiyah.

4. Pencuri yang tak menemukan jalan keluar

Ada seorang pencuri yang hendak mengambil pakaian milik Rabi’ah al-Adawiyah. Setelah mendapatkan barang curiannya, pencuri itu tak menemukan pintu keluar, sedangkan saat ia meletakkan barng curiannya ia dapat menemukan jalan keluar. 

Sang pencuri mengulang perbuatannya itu, mengambil dan meletakkan barang Rab’iah sebanyak tujuh kali, hingga kemudian pencuri itu mendengar suara tanpa rupa yang berkata “Wahai manusia, jangan engkau persulit dirimu sendiri. Perempuan ini (Rabi’ah al-Adawiyah) telah mempercayakan dirinya kepada Kami selama bertahun-tahun. Setan pun tidak berani mendekatinya. Mendengan suara tanpa rupa, pencuri itu segera bergegas meninggalkan rumah Rabi’ah al-Adawiyah.

5. Sindiran kepada Hasan al-Basri

Hasan al-Basri pernah mengajak Rabi’ah al-Adawiyah salat di atas air. Menangapi ajakan tersebut Rabi’ah al-Adawiyah justru memberikan sebuah jawaban “tidak perlu menunjukkan kemampuan spiritual untuk mencari kepopuleran duniawi” yang selanjutnya Rabi’ah al-Adawiyah melemparkan sajadah dan terbang di atas sajadah tersebut mengajak serta Hasan al-Basri sehingga lebih banyak orang yang mengetahuinya.

Baca juga: Wasiat Guru Sekumpul dalam Mendidik Anak

Ternyata apa yang dilakukan Rabi’ah al-Adawiyah merupakan sebuah sindirin kepada Hasan al-Basri. Mengetahui hal itu Hasan hanya terdiam.

6. Burung membawa bawang putih

‘Abdullah bin ‘Isa at-Thafawi meriwayatkan, di saat Rabi’ah al-Adawiyah sedang memasak, ternyata rasa masakannya kurang sedap, maka terbersitlah dalam hati Rabi’ah al-Adawiyah membutuhkan beberapa buah bawang putih agar masakannya menjadi sedap.

Tiba-tiba datang seekor burung menghampiri Rabi’ah al-Adawiyah dengan membawa bawang putih di paruhnya. 

Itulah beberapa kelebihan atau karomah yang diberikan Allah kepada Rabi’ah al-Adawiyah, karena kecintaan Rabiaah al-Adawiyah yang begitu besar pada Allah sekaligus sebagai tanda bahwa Allah memberkahinya.

Tinggalkan Balasan