3 Jimat Jenderal Soedirman Saat Melawan Penjajah

Panglima Besar Jenderal Soedirman. Beliau merupakan salah satu jenderal perang terbaik sepanjang sejarah Indonesia. Perjuangan Beliau dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia membuat Beliau sangat dihormati banyak orang, tak terkecuali Presiden Soekarno. Bahkan Jenderal Soedirman dijadikan tangan kanan Presiden Soekarno untuk berjuang bersama melawan Belanda yang berkeinginan kembali menjajah Indonesia dibantu dengan tentara sekutu.

Ketaatan beragama telah ditanamkan pada diri Jenderal Soedirman sedari kecil. Dari ketaatannya itulah, tak heran jika kemudian Jenderal Soedirman mendapat julukan “haji” dari teman-temannya lantaran selalu mengerjakan sholat tepat pada waktunya.

Baca juga: Demi Menjaga Kehormatan, Seorang Ulama Pura-pura Tuli

Ketaatan beragama Jenderal Soedirman terus dibawa saat beliau sekolah di sekolah pribumi (hollandsch inlandsche school). Bahkan ketaatannya itu semakin meningkat bersamaan dengan pengetahuan baru yang beliau peroleh dari guru-guru yang membimbing Beliau.

Nasionalisme juga banyak diajarkan kepada Jenderal Soedirman saat sekolah. Mulailah terpupuk rasa nasionalisme tinggi pada diri Jenderal Soedirman. Beliau tumbuh menjadi pemuda yang tak segan berjuang untuk membela Bangsa dan Negara. Bahkan rela melakukan apapun semampu Beliau untuk membuat perubahan besar yang manfaatnya akan dirasakan oleh banyak orang.

Perang gerilya menjadi bentuk cara berjuang Jenderal Soedirman melawan penjajah. Beliau rela menempuh jarak ratusan kilometer untuk menyusun strategi yang matang untuk perang melawan Belanda dan sekutu. 

Bahkan Belanda benar-benar tak menyangka jika dari sosok Jenderal Soedirman mampu membuat strategi perang yang hebat sehingga membuat tentara Belanda kewalahan.

Baca juga: Teruslah Berdo’a dikala Susah Maupun Senang

Meski saat bergerilya melawan penjajah kondisi kesehatan Panglima Besar Jenderal Soedirman semakin memburuk, namun Beliau seakan tak pernah memperdulikannya, Jenderal Soedirman, terus memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dari para penjajah.

Dianggap keberadaannya membahayakan maka sangatlah wajar jika kemudian Jenderal Soedirman terus diburu penjajah untuk ditangkap. Tapi setiap kali penjajah mengepung Jenderal Soedirman yang terjadi justru Beliau bisa selamat.

Seperti saat pasukan Belanda mengepung persembunyian Jenderal Soedirman. Namun yang didapati oleh pasukan Belanda malah sekumpulan orang yang sedang berdzikir. Saat itulah pasukan Belanda terkecoh sehingga tidak mengetahui bahwa diantara sekumpulan orang yang sedang berdzikir itu ada Sang Panglima besar Jenderal Soedirman yang mereka buru.

Ternyata semua itu memang telah direncanakan Jenderal Soedirman setelah Beliau mendapatkan Informasi bahwa tempat persembunyiannya telah dikepung penjajah. Melihat sudah tak mungkin lagi untuk melariak diri maka dengan cepat Jenderal Soedirman mengajak seluruh prajurit untuk mengelar dziikir dan tahlil “Mari kita berdzikir agar diberi pertolongan Allah. Jangan sekali-sekali di antara tentara kita ada yang menyalahi janji menjadi pengkhianat nusa, bangsa, dan agama. Harus kamu senantiasa ingat bahwa perjuangan selalu memakan korban. Jangan sekali-kali membuat rakyat menderita,” ujar Jenderal Soedirman.

Baca juga: Kesederhanaan Kyai Sahal “Kyai Kok Nggak Meyakinkan”

Keberanian Jenderal Soedirman melawan penjajah memang tak perlu diragukan lagi, Beliau dan prajuritnya sama sekali tak pernah gentar melawan penjajah. Bahkan Jenderal Soedirman juga dikenal sebagai jenderal yang ahli dalam membuat strategi mengecoh lawan. 

Setelah beberapa kali lolos dari kepungan penjajah, bahkan saat kondisi kesehatan Jenderal Soedirman semakin memburuk, para prajurit yang ikut berjuang bersama Beliau dibuat penasaran sebenarnya jimat apa yang di pakai Jenderal Soedirman sehingga Belanda sangat sulit menangkapnya.

Panglima Besar Jenderal Soedirman hanya menyampaikan kepada prajuritnya bahwa Beliau tidak pernah melupakan 3 hal: tidak pernah putus dari keadaan wudhu, shalat lima waktu tepat waktu, dan mengabdikan diri bukan untuk keluarga, golongan, atau partai, tapi untuk bangsa dan negara.

Tinggalkan Balasan